my sun

Senin, 18 Agustus 2014

Bocah-bocah Langgar



 Berawal dari masa kecil yang indah berlatar musola kecil nan sederhana di sebuah desa Waringin sari Barat. Darul Arqom, entah apa yang melatar belakangi musola tersebut hingga nama tersebut terasa begitu istimewa bagi kami. Musola kami dulunya sangat sederhana dengan berlantaikan semen, beratapkan genting yang sudah usang kehitaman, dengan papan warna hijau di depan surau bertuliskan”Musola Darul Arqom”. Tempat wudunya juga sederhana hanya ditutup dengan batubata berukuran tinggi 1,5 mengelilingi tempat wudhu yang masih menggunakan timba untuk mengambil airnya. Meski sederhana tapi banyak dimanfaatkan warga sekitar terutama saat musim kemarau. Akupun juga tak ketinggalan untuk mencicipi dinginnya air disurau ini. meskipun kecil tapi jamaahnya cukup banyak sekitar 3-4 bahkan 5 bari kebelakang baik putra maupun putri untuk hari hari biasa. Jika ramadhan tiba, jamaah digelarkan terpal orange( seperti terpal jemuran padi atau jagung)di luar musola tanpa tenda. Tanah di musola yang masih bergeragal mau tak mau menjadi santapan  jamaah yang solat di luar musola.
Hari ini, seperti biasa satu hari menjelang ramadhan aku dan teman-teman berkumpul di musola untuk membersihkan musola. Masing-masing dari kami ada yang membawa sapu, lap pel, serokan sampah, ember, dan ada juga yang tidak membawa apapun dan hanya menjadi penonton atau pengacau saja. “ nah biar cepet selesai kita bagi-bagi tugas, yang bawa sapu silakan nyapu, yang bawa pel ngepel, dan yang bawa serokan ambilin sampah!” bude bibah/ biasa dipanggil mb bibah oleh teman-teman mengomando pekerjaan kita pagi itu.” Iya mba...” teriak kami dengan serempak. Setelah dikomando kamipun bekerja sesuai dengan alat yang kami bawa. Ada yang menarik setiap kami bersih-bersih musola, kebanyakan dari kita meskipun sudah membawa alat masing-masing kami lebih suka mengepel sehingga terkadang pekerjaan kami terbengkalai dan asyik dengan pel-pelan yang basah dengan air berbusa. Karena hal itu, pulangnya kami sering dimarahi gara-gara baju basah dan kotor. Ada juga yang jinjit-jinjit membersihkan kaca dengan koran atau lap tangan. Saking banyaknya yang mau ngelap hasilnya jadi gak karuan. Kaca musola bukannya menjadi bersih malah sebaliknya “ bures”. Meskipun terkesan main-main kami bekerja, mbak bibah dan ta’mir musola mahfum dengan hal tersebut mungkin mereka berujar setidaknya kami tengah bersemangat dalam rangka membuat suasana yang bersih dan nyaman di musola kami. Setelah selesai biasanya kami diberi makanan atau buah. Pernah kami diberi sekeranjang rambutan dan alhamdulillah tidak butuh waktu lama keranjang rambutan jadi bersih tak bersisa.
Malam harinya dihari pertama bulan ramdhan, suasana begitu ramai. Seperti biasa malam pertama biasanya ada pengajian dan yang paling ditunggu-tunggu kami para bocah ialah bagi takir(nasi bungkus yang dibawa oleh masing-masing warga) setelah solat tarawih. Saat saat pembagian nasi bungkus seperti menunggu undian jakpot(t#lebay. )karena kami tidak tahu isi dari takir tersebut. isinya yang berbeda membuat penasaran. Tak jarang ada yang iri karena sebelahnya mendapat ikan, sedangkan ia dapet telor sehingga agenda cicip-mencicip dan intip mengintip menjadi cara kami agar dapat tahu dan merasakan takir sesuai dengan selera kami. Tak hayal rasa penasaran kami harus dibayar dengan ocehan dari mb-mb atau mas-mas yang bagi takir. Malam terus berlanjut setelah menyantap takir kami tadarus bersama secara bergantian sampai pukul 10 kemudian dilanjutkan oleh mb-mb atau mas-mas dan bapak-bapak.
Keesokan paginya setelah sahur kami solat subuh di musola dan dilanjutkan dengan mengaji. Terkadanga kami absen dari ngaji dan memilih untuk on the way maraton alias jalan santai di jalan raya yang ramai saat bulan puasa. Hilir mudik anak-anak, bujang gadis menyalakan mercon dan kembang api sambil menggoda sana-sini atau sekedar mengerjai. Terkadang aku dan teman-temanku berfikir bahwa maraton yang kita lakukan tidak ada gunanya Cuma bikin maksiat. Seiring benrgantinya hari kami sadar akan ahal tersebut kami tidak lagi maraton setelah solat subuh dan lebih suka tidur di musola(oh no!!). setelah siang kami pulang kerumah masing-masing dan biasanya kembali berkumpul siang hari untuk bermain. Macam-macam permainan tradisional kami lakukan mulai dari umpetan sarung, gubuk-gubukan(rumah-rumah dari kayu di kebun), pasar-pasaran, utet, engklek, dan yang agak modern monopoli. Ada yang beberapa permainan yang terkadang lebih sering dilakukan oleh anak perempuan seperti dam-daman, motor-motoran(permainan seperti catur dengan menggunakan media seadanya) dan bepean. Suana puasa jadi sedikit tidak terasa saat bermain bersama. Pada saat menjelang solat fardhu kami berlomba-lomba untuk tidak absen jamaah di musola sehingga kami akan memperolok yang tidak jamaah di musola. Terkadang saat siang hari kami memilih untuktidur di musola. Suatu waktu kami juga mengagendakan untuk berpetualang dan repek(cari kayu di ladang)dengan berjalan kaki atau naik sepeda torpedo jaman 70an. Kami menysusri pinggiran sungai dan pematang sawah untuk sampai di tanah merah sebuah tempat di sebrang kali desa sebelah. kami melewati jembatan dari bambu yang berjajar tanpa pegangan. Karena tidak mudah terkadang diantara kami ada yang jatuh atau sendalnya terlepas dan hilang terbawa arus kali. Sesampainya di tanah merah kami duduk di bawah pohon bambu menikmati semilir aingin dan mandi di kali yang butek. Ketika pulang kerumah kami akan mengendap-endap seperti maling menuju kamar mandi agar tidak dimarahi.
Sampai tiba datangnya hari kemenangan, kami biasa melakukan oncoran(pawai obor) dimalam lebaran. Dengan sebatang bampu yang diisi minyak tanah dan disumpel sabut kelapa dan api yang dinyalakan diatasnya kami berkeliling sekitar lingkungan. Mulanya kami hanya segerombol kecil dan lama kelamaan menjadi banyak. Para warga berduyun-duyun keluar rumah menyaksikan kami. Dengan semangat kami mengumandangkan takbir saat berkeliling. Setelah berkeliling, kami kumpul di musola dan meneruskan takbiran di musola dengan speker secara bergantian. Suara kami sampai serak-serak saking semangatnya takbir. Biasanya setelah satu orang bertakbir mic di taruh ditengah dan kami secara bersamaan bertakbir.
Itulah seklumit cerita bocah-bocah darul arqom di masa kami. Seiring berjalannya waktu kami semakin dewasa dan sibuk dengan kegiatannya masing masing.  Ada kerinduan akan masa-masa itu, masa-masa penuh keceriaan. Kini kata dewasa mulai tersemat diantara kami sehingga tak pantas bagi kami untuk melakukan hal-hal kecil seperti dulu. Kami sekumpulan pemuda dan pemudi darul arqom memiliki semangat untuk menghadirkan keceriaan dan meramaikan musola kami tercinta.
Anak-anak zaman sekarang tidak lagi seceria kita dahulu, berbagai permainan canggih memenjara keceriaan dan kebebasan mereka tanpa sadar. Mereka lebih suka di dalam rumah sendiri ketimbang bermain di luar bersama-sama. Kalaupun ada sangat jarang. Musola tak seperti dulu dan tak seramai dulu. Jangankan musola halaman-halaman, lapangan serta pekarangan sekitar juga tidak lagi seramai dulu.
Melihat hal tersebut muncullah ide diantara kami untuk membuat suatu acara untuk meramaikan musola dan mengmbalikan keceriaan untuk anak-anak di sekitar musola. Gagasan itu muncul saat kami sedang berkumpul diteras depan musola. Kami sadari dengan rutinitas dan pekerjaan kami masing-masing sehingga kami sadar bahwa kegiatan yang nantinya kita lakukan bukan sesuatu yang bersifat kontinyu. Kegiatan ini lebih kepada even tapi berkelanjutan. Kami memulai dengan kegiatan outbond(modifikasi jelajah alam disertai games-games) Yang bertempat disekitar musola. Degan hal tersebut semoga akan terekam dimemori mereka generasi penerus kami agar kelak dapat melakukan hal yang luar biasa untuk musola tercinta. Meski tak seperti dulu musola kami semoga kelak akan ada generasi penerus yang lebih semarak dan lebih semangat dalam meramaikan musola kami. Yah sekarang musola kami telah berubah sudah tak sesederhana dulu bangunannya sudah lebih modern. Kalau ramadhan sudah tidak menggelar terpal diluar. Salah satu upaya kami pemuda-pemudi Darul Arqom yaitu mengkondisikan adik-adik  untuk solat terawih di rumah ta’mir musola. alhamdulillah mereka terkondisikan dengan baik, tidakribut,dan semua melakuka solat tarawih. Diakhir solat biasanya ada do’a bersama, niat dan ada kultum dari kami. Diakhir ramadhan kami megadakan reword bagi mereka yang full puasa, tarawih, hafalan, dan tadarus paling banyak. Selain di bulan Ramadhan kita juga terkadang sukamengadakan even di hari-hari lain terutama berkenaan dengan hari libur sekolah dan PHBI(Perayaan Hari Besar Islam). Selama ini yang menjadi kendala bagi kami adalah waktu lantaran sibuk dengan pekerjaan dan pendidikan masing-masing, namun Alhamdulillah sudah beberapa tahun berjalan dengan baik dan semoga kedepan bisa menjadi alternatif untuk meramaikan musola kami.

Ramdhanku( sekilas mengingat saudara kita di Palestina)




Keshyahduan kurasakan manakala hari pertama menjelang Ramdhan tiba. Suara merdu sahut menyahut sesekali diiringi suara tabuh dari beduk masjid disekitar rumahku. Alangkah semarak setiap datangnya Ramdhan, baik tua muda, dan anak-anak bersuka cita menyambut datangnya ramadhan denga berbagai hidangan, penampilan, dan petasan(red). Tak lupa amalan terbaik yang telah disipkan jauh sebelum Ramadhan itu tiba bagi mereka yang terbiasa dengan rutunitas ibadah menyambut datangnya Ramdhan.
Ziarah..
Bagi masyarakat kita hal tersebut sudah membudaya karena sering kita dapati menjelang ramdhan sebagian masyarakat berdatangan ke pemekaman umum untuk berziarah kepada orang tua, sanak saudara dan juga sahabat. Satu hal yang positif dalam kegiatan ini ialah mengigatkan kita aka kehidupan dunia yang sementara, dimana masing-masing kita tengah berada pada suatu kondisi menunggu kapan ajal itu tiba. Sehingganya setiap diri tidak boleh kufur terhadap nikmat kehidupan yang Alloh berikan . ziarah dalam prespektif demikian dapat bernilai ibadah karena dilakukan dalam rangka memuhasabahi diri. Namun yang perlu digaris bawahi adalah ketika ibadah yang kita lakukan telah melampaui batas. Yaitu menjadika ziarah sebagai bentuk permintaa kepada orang yang sudah meinggal. Hal tersebut tidak dibenarka dalam islam karena dapat berujung pada syirik. Yaitu meminta kepada selai Alloh.
A:Benda apa yang makin keras makin disukai?
B: Apa ya??
C:Palu...
D: Batu..
A: Buka...petasan..haha
Seorang bocah tengah bercanda dengan teman-temanya di sebuah surau kecil dekat rumah. Segerombolan anak kecil suka memainka benda pembuat bising itu. Tapi ternyata bukan Cuma anak kecil yang suka, muda bahaka dewasa juga suka memainkannya. Bahakan dalam suatu tradisi masyarakat kita ada yang menggunakannya dalam acara penyambutan saat perkawinan dan saat upacara adat. Di bulan Ramdhan petasan banyak bermunculan mungkin dapat dikatakan sebagai wujud ekspresi bagi mereka yang gemar memainkannya terutama pada saat bulan Ramdhan. Karena memang jika kita bandingkan dengan bulan bulan lain petasan banyak bermunculan disaat Rmadhan tiba.
Kehikmatan suasana Ramdhan sore itu berubah mejadi gaduh manakala listrik padam di Kampung kami. Sampai-sampai nenekku berucap “ beginini kalo udah bulan PLN suka main matiin lampu pas orang lagi enak-enak buka sama sahur”. Ya memang pemadaman di tempatku dan mungkin juga di tempat lain sering terjadi disaat berbuka da sahur. Seolah tidak mentolerir orang yangtengah berpuasa.
Aku terhenyak dalam lamunanku sendiri pada saat itu. Sahabat ternyata jika kita menengok saudara kita nun jauh disana, dinegeri dimana kebebasan itu dipenjara, dan kejahatan terhadap umata manusia merajalela. Kita masih jauh amat beruntung diberikan Ramdhan yang aman, nyaman, dan tenteram. Siapa yang tahu kalau hidangan yang lezat kita kita konsumsi setiap hari menjelang berbuka dan sahur belum tentu mereka nikmati. Jangankan sebijih kurma seteguk airpun sangat mahal didapat. Baju yang indah yang kita kenakan saat kemasjid dan berkunjung ketempat sahabat belum tentu mereka dapati saat ini. bagi mereka dapat menutup aurat dengan baik dan terjaga kehormatannya sungguh merupakan kenikmatan yang luar biasa. Lampu, seirng kita mengeluh dengan panas, gelap, dan pengap terkadang menjadikan rutinitas bahkan kewajiban kita terhambat karenanya. Padahal mereka nun jauh disana tidak asing lagi dengan kata padam, gelap, apalagi gelap. Hal demikian seolah sudah bersahabat dengan mereka. Belum lagi petasan yang kita bunyikan sebagai wujud ekspresi keceriaan menyambut ramadhan, bisa jadi malah menjadi petaka bagi mereka yag kesehariannya deperdengarkan dengan suara rudal dan bom atom yang berjatuhan.
Sungguh nikmat yang kita rasakan saat ini begitu berlimpah dan sering kita kufur terhadapnya. Dengan menilik saudara kita di Bumi nanjauh disana namun semoga Alloh jalinkan kedekatan diantara kita dengan mereka dalam Rabitah yag kita lantunkan setiap pagi dan petang serta do’a-do’a terbaik yang kita mohonkan Pada Yang Maha Kuasa kepada mereka. Ya Saudara kita di Negeri Palestina, negeri dimana dahuluya terdapat kiblat pertama umat islam Negeri yang kini jadi jajahan. Semoga kita semakin tergerak untuk terus senantiasa bersyukur akan kondisi yang yang dapati hari ini. boleh jadi segala kenikmatan yang ada merupakan karunia dari Alloh atau sebaliknya menjadi ujian terjhadap eksistensi diri kita sebagai hamba.
Dan suasana sore itu menjadi muhasabah bagi diri ini betapa Alloh telah limpahkan begitu banyak nikmat kepada kita. Wallohualam bishowam..


Sabtu, 14 Juni 2014

Kartini Membaca




Siapa yang tidak tahu Kartini? Ya,bagi masyarakat Indonesia, ia adalah sosok pejuang emansipasi bagikaum hawa. Bagaimana demikian? Pada masa yang lampau wanita-wanita di negeri ini tidak dapat dengan bebas mengaktualisasikan diri mereka, sehingga kebodohan bak mendung yang terus berjalan sepanjang hari. Sampai akhirnya datang seberkas cahaya yang kemudian menyinari. Yaitu dengan dibukanya tabir kebebasan bagi kaum hawa untukmengaktualisasikan diri mereka melalui pendidikan. Buku dari gelap terbitlah terang adalah karya yang fenomenal yang dihasilkan oleh buat tangan yang lembut dan bersahaja. Kartini, lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Terlahir dari keturunan berdarah biru,tak membuatnya lupa bahwa sejatinya manusia adalah sama diMata Tuhan. Bagi kartini, baik laki-laki maupun perempuan adalah sama dalam aspek mendapatkan pendidikan dan pengajaran terhadap ilmu pengetahuan. Ia prihatin dengan keadaaan kaum wanita pada waktu itu. Kaum wanita tidak mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum laki-laki pada waktu itu. Perempuan hanya dijadikan objek bukan subjek yang memiliki hak yang sama terutama pada bidang pendidikan. Kartini tergerak hatinya untuk merubah mainstream tersebut membuka sekolah bagi wanita, dan mengeluarkan bukunya yang fenomenal” Habis Gelap Terbitlah Terang”. Perjuangannya dalam menegakkan emansipasi bagi kaum wanita diapresiasioleh bangsa ini, sehingga kita dapati beiau sebagai pahlawan emansipasi wanita dan hari dimana ia dilahirkan menjadi momentum emansipasi yang kitakenal dengan “Hari Kartini”.
Sosok yang tangguh ini semasa hidupnya gemar sekali membaca. Benar kata pepatah jika dengan membaca akan mengubah dunia. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Ia adalah sosok yang begitu mencintai ilmu pengetahuan. Kehausannya untuk menuntut ilmu membuatnya rajin mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya
Membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.
Didalam Islam membaca adalah wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana kita tahu petikan dari ayat tersebut “ Iqra’” yang artinya bacalah, “bismirabbikalladhi Kholaq” bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah mencipta.“Ar-Razi menguraikan dalam tafsirnya, bahwa pada dua ayat pertama dalam surat al-alaq, manusia disuruh membaca di atas nama Tuhan yang telah mencipta, adalah mengandung qudrat, dan hikmat dan ilmu dan rahmat. Semuanya adalah sifat Tuhan. Dan pada ayat yang seterusnya seketika Tuhan menyatakan mencapai ilmu dengan qalam atau pena, adalah suatu isyarat bahwa ada juga di antara hukum itu yang tertulis, yang tidak dapat difahamkan kalau tidak didengarkan dengan seksama. Maka pada dua ayat pertama memperlihatkan rahasia Rububiyah, rahasia Ketuhanan. Dan di tiga ayat sesudahnya mengandung rahasia Nubuwwat, Kenabian. Dan siapa Tuhan itu tidaklah akan dikenal kalau bukan dengan perantaraan Nubuwwat, dan nubuwwat itu sendiri pun tidaklah akan ada, kalau tidak dengan kehendak Tuhan.Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh. Untuk itu pentingnya membaca didalam islam adalahuntuk mengetahui dan memahami hakikat alam semesta beserta isinya. Selain itu juga membaca menjadi penting agar seseorang dapat menjalani kehidupan jauh daribelenggu kebodohan yang menyesatkan. Ilmu pengetahuan sejatinya senantiasa di pahami dan dipraktikan atau diamalkan karena ilmu tanpa amal itu sia-sia, sedangkan amal tanpa ilmu adalah bohong.
Ya ilmu pengetahuan adalah penting. Apalagi bagi wanita, sebagaimana kita tahu bahwa peran utam aseorang wanita dan sudah menjadi kodratnya adalah menjadi ibu. Ibu adalah sosok yang menjadi sekolah pertama bagi anaknya. Itu artinya pentingnya ilmu pengetahuan yang kemudian melahirkan kecerdasan, sangat penting bagi kaum wanita. Melahirkan dan mendidik seorang perempuan sama halnya dengan melahirkan dan mendidik satu generasi. keberadaan wanita sering diidentikkan padakemajuan suatu bangsa. Dimana suatu bangsa dengan aktualisasi perempuan dalam segala bidang yang baik maka akan terlihat pula kemajuan dari padanya. Dengan tidak keluar dari kodratnya kedudukan seorang wanita menjadi mulia manakala berilmu dan berakhlak yang baik sebagaimana Aisyah Ra yang kelak menjadi pemimpin bagi kaum wanita disyurga. Semasa hidupnya ia sangat cerdas. Kemampuannya dalam menghafal ribuan hadis menjadi bukti betapa kaum wanita pun sama dengan laki-laki. Sama-sama memiliki kecerdasan, untuk itu sudah sepatutnya wanita keluar dari belenggu kebodohan. Salah satu caranya adalah dengan membaca. Membaca adalah jendela dunia.
Kartini membuka tabir pembatas anatara laki-laki dan perempuan dalam hal kebebasan dan HAM. Dimana perempuan sejatinya bukanlah objek yang dieksploitasi melainkan adalah subjek yang kelak akan membawa kecemerlangan dan kegemilangan bagi bangsa ini. Sehingga sudah semestinya kaum hawa menjadi sosok yang cerdas lagi tangguh. Karena kelak dari rahimnya akan lahir generasi-generasi pemimpin. Dan siapa lagi kalau bukan wanita yang mengenalkan pemimpin masa depan pada dunia dengan mimpi-mimpi mereka yang nyata.
Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. - R. A. Kartini

By : my sun
Date: 12/04/2014 pukul 05: 24
referensi




Empat Pilar muslimah dalam berkiprah




Islam memberikan keleluasaan bagi muslimah untuk dapat berbuat dan beramal sholihsebanyak-banyaknya. Hal tersebut menjadi keuntungan darimuslimah. Ada beherapa pilar yang dapat dijadikan sandaran bagi muslimah untuk berkiprah dalam lapangan ilmiyah di masyarakat :
Pertama, laki-laki dan perempuan memiliki derajat hak dan tanggung jawab yang sama disisi Allah Ta’ala. Namun jangan berpikir bahwa persamaaan ini juga menuntut tugas yang sama. Sekali lagi, sebagaimana telah diungkap di atas, keduanya ada dalam orbit yang berbeda. Keduanya memiliki tugas dan peran yang berbeda-beda, namun saling melengkapi. Untuk itu, keduanya pun harus memiliki bekal yang cukup sehingga tugas yang diletakkan pada pundaknya dapat terlaksana.
Kedua, laki-lakidanperempuan diberi bekal fitrah dan potensi yang sama. Saat Allah Ta’ala menciptakan manusia, tak pernah dibedakan apakah ia perempuan atau laki-laki. Karena itu, peluang perempuan untuk berprestasi terbuka sama lebarnya dengan laki-laki. Tinggal sekali lagi, tentu keduanya berada pada orbit masing-masing.
Maka tak heran jika Rasulullah SAW memuji perempuan Anshar yang giat bertanya: “Allah akan merahmati perempuan Anshar, mereka tidak malu-malu lagi mempelajari agama.”
Ketiga, perempuan islam haruslah perempuan yang penuh dengan vitalitas dan kerja nyata. Rasulullah SAW menganjurkan agar kaum wanita selalu berkarya, “Sebaik-baik canda seorang mukminah di rumahnya adalah bertenun.” (Asadul Ghabah, jilid 1, hal. 241).
Qailah Al-Anmariyah, seorang sahabiyah yang juga pedagang, pernah bertanya pada Rasul: “Ya Rasulullah, saya ini seorang pedagang. Apabila saya mau menjual barang, saya tinggikan harganya di atas yang diinginkan, dan apabila saya membeli saya tawar ia di bawah yang ingin saya bayar. Maka Rasul menjawab, “Ya, Qailah! Janganlah kau berbuat begitu. kalau mau beli, tawarlah yang wajar sesuai yang kau inginkan. Dikasih atau ditolak.”
Ustadz Umar Tilmisani menyatakan bahwa Islam tidak melarang seorang perempuan menjadi dokter, guru sekolah, tokoh masyarakat, perawat, peneliti dalam berbagal bidang ilmu, penulis, penjahit serta profesi lain sepanjang itu tidak bertentangan dengan kodrat perempuannya.
Keempat, hendaknya aktivitas dibidang keilmuwan itu tidak melupakan tugas utama seorang perempuan sebagai penanggung jawab masalah kerumahtanggaan. Firman Allah Ta’ala : “Dan hendaklah kamu tetap di rumah-rumah kamu…” (QS. al-Ahzab : 33).
Jika keserasian ini terjaga, maka tak hanya ummat Islam yang heruntung karena mendapat tambahan tenaga dan partner baru dalam berjuang, namun cita-cita menegakkan kalimat Allah kian datang mendekat. Semoga Allah Ta’ala selalu menyertai langkah kita. Amiin

si antagonis

belajar jadi tokoh paling antagonis sampai buat orang jadi lari ketakutan hampir mati si antagonis ini tak pernah hilang akal buat orang...